"Pembeli adalah raja"
Slogan ini mempunyai pengaruh yang sangat kuat untuk banyak orang. Karena slogan ini mereka menganggap diri mereka layaknya seorang raja ketika melakukan transaksi pembelian, baik produk maupun jasa. Mirisnya, karena slogan ini terkadang mereka bertindak sewenang-wenang kepada penjual karena mereka merasa diri mereka yang berkuasa, mereka yang punya uang dan penjual hanya melayani mereka saja. Istilahnya "ada uang ada barang" atau "ada uang ada pelayanan".
Sebagai seorang yang belajar di bidang ekonomi khususnya manajemen. Gue paham kalo penjual itu harus berupaya memuaskan pembeli baik dari produk maupun layanan yang diberikan. Tapi, permasalahannya disini terkadang pembeli tidak mengerti sopan santun, tidak paham situasi dan kondisi ,tidak mengerti cara bersikap.
Contoh kasus yang pernah gue alamin sendiri. Kebetulan bokap gue punya toko yang menjual sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Singkat cerita, waktu itu ada bapak-bapak beli aq*a galon sebanyak 3 galon. Fyi toko gue ini sistemnya masih manual, dan pegawai cuma 1 itupun perempuan. Pas waktu itu Bokap dan kakak gue yang cowok lagi pergi. Jadi cuma ada 2 orang di toko yaitu gue dan pegawai toko gue, yang jaga toko perempuan semua dong 😊
Lanjut...
Bapak tersebut bayar, terus dia nyuruh gue dan pegawai gue buat ngangkat 3 galon itu ke mobilnya!. Mohon maaf, padahal badan bapak tersebut sangat sangatttttt berisi (gemuk) dan fisiknya sehat yang menurut gue dia lebih mampu buat ngangkat 3 galon tersebut ke dalam mobilnya dibanding gue.
Karena gue merasa tidak mampu buat ngangkat 3 galon tersebut. Dan juga pegawai gue belum bisa ngangkat berat-berat karena pegawai gue habis operasi caesar. Gue jelasin lah kebapaknya. Eh dia ga terima dan marah! "haduhhh. Jadi saya nih yang ngangkat?" Gue sama pegawai gue bingung kan. Mana di toko gue ga ada alat bantu untuk ngangkatin yang berat-berat. Karena biasanya orang-orang yang belanja di toko gue paham kalo situasi nya emang "ga ada yang ngangkat" mereka ngangkat sendiri atau bisa gotongan sama gue. Tapi ga tau kenapa si bapak ini ngeselin.
Terus gue bilang ke bapaknya "yaudah pak. Bapak bisa bantu saya ngangkatnya? " . And then bapaknya bilang "sama aja saya yang ngangkat " (si bapak masih ga bisa nerima) .Astaghfirullahalazim, apa salahnya kan gotongan sama gue?.
Asliii gue bener-bener kesel dan pengen marah sama si bapak. Tapi gue coba tahan. Karena gue masih mikir, gue punya amanat jaga toko bokap gue. Sampai akhirnya datenglah tetangga gue yang kebetulan mau beli sesuatu. Gue minta tolong sama tetangga gue itu buat bantuin gue ngangkatin 3 galon tersebut ke mobil bapaknya. Baiknya, tetangga gue ini ngerti sama situasi saat itu, dia bilang "biar saya aja yang ngangkat".SubhanaAllah ini baru yang namanya cowo :"). Selesai ngangkat 3 galon ke dalam mobil dan si bapak tadi udah pulang. Tetangga gue sampe geleng-geleng kepala, ga paham sama sikap si bapak yang arogan. Kalian bisa bayangin kan, aq*a galon itu beratnya hampir 20 kg. Dan gue harus ngangkat 3 galon it means 60kg :"). Gue rasa perempuan di luar sana juga ga sanggup, kecuali emang mereka punya fisik yang kuat dan lebih. Lah? Gue aja badan cuma segini :").
Dari kasus ini kesimpulannya. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari yang namanya transaksi jual beli. Baik itu di bank, restoran, pasar, warung kecil dll. Dalam prosesnya mungkin tidak berjalan mulus, misal ; miss komunikasi, barang tidak sesuai yang membuat pelanggan terabaikan haknya. Pelanggan boleh kok komplain kalo merasa haknya terabaikan. Karena komplain itu sebagai masukan untuk menjadi lebih baik. Tapi inget.. yang sopan 😊 . Begitu juga penjual harus bisa menanggapi komplain dari customer dengan baik, cepat tanggap.Jadilah penjual dan pembeli yang baik, bijak, cerdas tanpa harus merugikan satu sama lain . Intinya manners maketh man. Perilaku yang baik menjadikan kita sebagai manusia yang baik.
Komentar
Posting Komentar